Aku dan Debu

Aku dan Debu

Pagi yg gosong tersengat terik. Seorang teman menghampiri saya dan bertanya. Apakah sholat, puasa, haji itu berat? Saya jawab iya, tapi saya berusaha melakukan dengan iklas hanya mengharap ridha Allah. Apa kamu masih punya nafsu terhadap wanita? Iya, tapi mudah-mudahan Allah memberikan jalan yg baik untuk menyelamatkan saya. Apa sampeyan sudah pada tingkat keimanan yg cukup sehingga terhindar berbuat dosa dan maksiat? Saya tidak tau kadar keimanan, karena sadar bahwa syahwat dunia ini mudah sekali menggelincirkan saya pada dosa. Saya masih manusia!

Dia melanjutkan, ‘Ora sholat ora popo, sing penting eling Gusti Allah’. Eling ndasmu! Lha wong urusan syariat saja belum beres, kok kemaki. Maksud dia yg penting implementasi ibadah dalam perilaku kehidupan. Tapi berusaha meniadakan yg fardhu jelas bukan perkara main-main. Sholat itu wajib, alasan lupa atau tidak melakukan itu hal yg lain. Itu urusanmu. Di situlah iman – sulur yg mengantarkan kita menuju padaNya.

+ Halah, banyak orang sholat kelakuannya masih bejat. Mending gak sholat tapi baik ke semua umat.

– Oh iya bener itu. Wong sholat saja tetep melarat. Yg gak sholat rejekinya malah berlipat.

Teman saya diam. Saya melanjutkan satire diatas, bahwa amal ibadah kita bukanlah jaminan keberhasilan menuju surgaNya, dan doa-doa yg kita panjatkan belum tentu menjadi sebab kecukupan kita di dunia.

+ Lalu apa yg menjadikan manusia bisa baik meski tidak sholat, kaya meski tak berdoa?

– Pikiren dewe!

Sebagai awam saya sadar, sekalipun semua pahala ibadah ini dikumpulkan kiranya belum bisa menghapus semua dosa-dosa yg pernah saya lakukan. Bahkan istighfar yg saya baca setelah selesai sholat itu tak pernah cukup untuk menghapus kesalahan sholat yg baru saja saya kerjakan. Belum dosa-dosa lain! Pada sruputan terakhir saya tutup obrolan pagi ini dan berbisik padanya.

“Aku hanyalah debu yg senantiasa berusaha agar bisa melekat pada terompah Rasulullah”.

*

#jumatndleming

Comments

comments

You might also like

Selamat Ulang Tahun Ponorogo

Ponorogo adalah kota unik. Ia kota kuno yang seringkali menjadi lokasi “persembunyian politik” maupun “pertimbangan politik” sejak era Kerajaan Medang Kamulan. Airlangga, yang kelak menjadi penguasa Kahuripan sejak 1019, ditempa

Sebelum Yakin, Kau Tak Akan Memiliki Kehidupan Ini

Aku angkat kau dalam genggaman seraya berkata pada Ibumu, “Dia akan menjadi yg terbaik dimanapun. Anak ini akan menjadi terhebat dari siapapun.” Kini kau beranjak besar dan menyenangkan. Bisa melihatmu

Bahsul Masail PWNU Jatim: Boleh Copot Status Kewarganegaraan

Bahtsul Masail Muskerwil PWNU Jawa Timur di Graha Residen Jalan Darmo Harapan 1 Surabaya memutuskan tiga masalah. Salah satunya hukum melepas status kewarganegaan bagi warga negara yang dinilai mengancam stabilitas

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply