Cerita Tentang Teror

Cerita Tentang Teror

Sesuatu yg gelap mencekam untuk menakut-nakuti seseorang, sehingga meninggalkan trauma dan takut berkepanjangan. (Yg jurusan psikologi tolong dikoreksi definisi ngawur saya itu. Terima kasih). Teror tidak melulu berkaitan dengan teroris. Tidak pula harus berasal dari para separatis atau jihadis. Teror bisa ditebarkan oleh guru dan orang tua sendiri. Gak percaya kan?

Namanya Mbah Cokro. Dia tinggal dua puluh langkah dari pagar sekolah. Rumahnya besar tapi sepi, halamannya luas dan rapi. Dua pohon jambu yg buahnya tak kenal musim berdiri di kanan kiri. Sepulang sekolah TK, saya dan teman-teman selalu bersemangat mencuri jambu itu. Seorang memanjat, yg lain menunggu di bawah. Saya mengawasi situasi, takut ketahuan yg punya rumah. Tapi sebelum pemiliknya keluar, Bu Guru Nur yg melihat aksi penjarahan kami dan langsung berteriak marah.

“Hei turuuuuun! Gak boleh ngambil. Itu Jambu Setan. Jangan dimakan!”

Sejak itu saya kenal setan lewat pohon jambu. Besoknya kami dicuci habis di sekolah. Katanya, jambu itu makanan setan. Sayang sekali, kami gak takut setan. Kesenangan mencuri jambu membuat saya dan teman-teman merubah strategi dengan berpura-pura istirahat atau bermain di bawah pohon itu. Menunggu Bu Guru pulang, lalu beraksi lagi. Begitu seterusnya. Sampai sekarang trauma itu masih terbawa ; kalau melihat buah jambu fikiran saya langsung terbayang Guru “setan” itu. Mbah Cokro sudah mati, tapi pohon jambunya masih kokoh berdiri. Sekokoh teror Jambu Setan yg membuat saya lebih takut Bu Guru daripada setan.

Sampai di rumah teror masih berlanjut. Agar tidak bermain terlalu jauh, biasanya Ibu menakut-nakuti saya dengan cerita tentang penculik. Hartop abang bertutup terpal, bersuara kencang. Mobil penculik anak alias Montor Cap Gunting. Apesnya, saya mempunyai tetangga seorang tentara berpangkat kapten bernama Pak Soemadi. Dia seringkali membawa montor kantor Jeep Hartop merek Cap Gunting pulang ke rumah.

Menurut cerita, anak kecil yg tertangkap Cap Gunting akan dikarungi dan dijadikan tumbal pesugihan. Kedua matanya dicungkil, dibuat cendol dawet untuk disajikan di perempatan jalan atau di bawah jembatan. Saya memilih ndlosor dibawah dipan untuk bersembunyi. Tak berani keluar rumah, hingga montor Cap Gunting Pak Soemadi pergi. Teror Cap Gunting berhasil membuat anak-anak kecil tak berani main jauh. Mereka takut. Saya juga begitu. Takut diculik, berpisah dengan ibu.

Belum puas dengan Cap Gunting, sore hari teror itu datang lagi. Teror hantu langit berwarna merah – yg membuat kami takut keluyuran di waktu petang, saat Magrib datang malam menjelang.

”Ayo pulang, cepat mandi. Nanti dimakan Candik Kala.”

Pancaran warna di sebelah barat karena pantulan cahaya matahari yg menjadikan langit kuning kemerahan pada sore yg senyap. Cahayanya menerobos pepohonan. Menumpahkan warna oranye yg kental di halaman, sehingga membawa kesan angker dan mencekam. Candik Kala, sebuah tanda yg muncul saat pergantian terang menuju gelap. Jeda sesaat untuk memberikan ruang kepada kawanan hantu agar keluar dan memulai aktifitasnya. Menculik anak kecil.

”Pulang, sudah malam. Nanti digondol Wewe Gombel.”

Saya takut, bahkan sebelum mahkluk gak jelas macam Wewe Gombel itu muncul. Candik Kala yg menjadikan senja menjadi sunyi, sudah cukup membuat saya tak berani keluar rumah berangkat mengaji. Kalau sudah begitu, biasanya Bapak langsung menggendong saya pergi ke masjid. Saya dipeluk sambil berjalan, dan………. diteror lagi.

“Mataharinya dimakan Buto ya?! Gak usah khawatir, kamu tinggal minta sama Allah. Dia Maha Pemurah, besok Dia pasti ngasih lagi.”

“Nggih Pak.”

“Eh, kata Ibu kamu tadi nelan biji rambutan ya?!”

“Nggih. Terus gimana Pak?”

“Hati-hati lho, tiga hari lagi di kepalamu bakal tumbuh pohon rambutan.”

“Gak mauuuu…! Saya gak suka rambutan. Saya mau minta kepada Allah biar kepala saya tumbuh pohon durian. Bisa kan Pak?”

“Hmmm eh iyo iso. Tenang wae…!”

*

#teror

Comments

comments

You might also like

Perampok Emas dan Jarahannya di Panama Papers

 Fajar belum menyingsing pada Sabtu 26 Oktober 1983, enam perampok menyelinap masuk gudang Brink’s-Mat di Bandara Heathrow, London. Keenam bandit mengikat satpam-satpam gudang, menyirami tubuh mereka dengan bensin, lalu menyalakan

Umar Bin Khattab Tidak Pernah Menghancurkan Gereja

Februari 638. Yerusalem takluk di tangan Umar Bin Khattab. Orang-orang Kristen dipaksa menyerah. Patriarkh Yerusalem, Sophronius, menyambut Umar dan Umar memintanya menemani untuk jalan-jalan melihat tempat-tempat suci di Yerusalem. Sophronius

Balada Bakul Kue

Bagi sebagian emak2 yg kudet gosip Umi Pipik macam saya ini punya anggapan, bahwa facebook itu lebih dari sekedar sosmed, ia adalah pasar – bukan kamar. Tempat potensial untuk jualan,

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply