Kalo sudah begini siapa yg bisa saya pisuhi lagi?

Kalo sudah begini siapa yg bisa saya pisuhi lagi?

Fahri Hamzah. Dia memang bukan Fahri dalam novel Ayat Ayat Cinta – sosok sempurna idaman para calon mertua. Kebanyakan orang menganggap Fahri Hamzah adalah salah satu pusat kontroversi di negeri ini. Namun seandainya kita mau hening sejenak dan bersabar untuk memahami konteksnya tentu tidak semua statement Fahri harus dijadikan kontroversi yg berlebihan. Misalnya, ketika dia menyematkan tagar #sinting kepada Jokowi yg menjanjikan 1 Muharram sebagai Hari Santri. Saya melihat itu adalah kritik kepada seorang capres yg tengah tebar pesona (baca: kampanye) untuk meraup suara publik. Urusan Jokowi menepati janji itu soal lain. Kalau ada yg tersinggung sangatlah wajar. Yg perlu digarisbawahi bahwa kritik Fahri Hamzah berada dalam konteks kampaye pemilihan presiden, bukan yg lain!

Pun jika mau menelisik lebih jauh, “sinting” adalah diksi yg hampir sepadan dengan “gila lu!” atau “stress lu!” – frasa yg biasa kita ucapkan dalam pergaulan sehari2. Tagar #sinting menjadi besar karena diledakkan secara politis di Mata Najwa. Fahri dihadapkan head to head dengan Nusron Wahid yg dari kalangan santri. Media lalu menggoreng isu tersebut sebagai alat demarketisasi. Ironisnya media justru tidak pernah mempersoalkan kicauan Wimar Witoelar yg menuding Muhammadiyah sebagai bagian dari “kelompok bajingan dan orang jahat”. Terlebih tragis lagi, GP Ansor Semarang malah menolak 1 Muharram dijadikan sebagai Hari Santri karena khawatir menimbulkan bahaya. Selesai!

Membandingkan Fahri Hamzah dengan musisi Ahmad Dhani yg mulai menopause atau manusia bumi datar Habiburrahman yg tersesat di simpang susun semanggi adalah hal yg sia2. Fahri Hamzah jauh lebih punya kelas. Dia bicara bukan dari tong kosong tapi didasari pada argumentasi rasional yg terbuka dan sah untuk diperdebatkan. Sebagai salah satu eksponen mahasiswa 98, nyalinya sudah terasah untuk dipertaruhkan agar tidak populer sekalipun demi pilihan sikap politik dan idealisme. Fahri Hamzah punya keberanian untuk dicemooh dan dibully. Dia seorang orator ulung yg pernah menggulung Adian Napitupulu (mantan aktivis Forum Kota) dalam sebuah debat. Ketika kader PDIP (partai yg juga rajin melakukan korupsi) itu mengkritik habis2an lembaga DPR, Fahri berhasil membantai debat itu dengan closing, “Anda bicara seolah Anda bukan orang partai, apa yg Anda lakukan untuk PDIP?”. Jleeeb…. sampe ke ulu hati.

Sebagai deklarator dan Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) pertama, karir Fahri melejit menjadi sosok politisi muda penuh kontroversi menyalip teman2 seangkatannya; Indra J.Piliang, Fazlurrahman, Adian Napitupulu, dll. Fahri Hamzah terpilih sebagai anggota DPR dan masuk dalam 50 orang dengan perolehan suara terbanyak mengalahkan seniornya Hidayat Nur Wahid. Dialah satu2nya orang dalam sejarah Indonesia yg menjadi wakil Ketua DPR tanpa partai setelah dipecat dari PKS – partai yg dia bidani kelahirannya. Lalu menggugat ke MK dan menang. Sebuah prestasi politik yg cukup cemerlang di usia yg relatif masih muda. Dimana tidak semua orang bisa melakukannya, entah dengan cara apapun. Bahkan Profesor Jimly Asshiddiqie – Mantan Ketua MK dan Guru Besar di UI pernah mengatakan bahwa Fahri Hamzah adalah ‘one of the rising stars’ dalam jajaran elit kepemimpinan Indonesia masa depan. Kita boleh tidak percaya pada Fahri Hamzah, tapi kita tau Prof. Jimly bukanlah orang bodoh!

Saya tidak sedang memuji atau membela Fahri Hamzah. Pun seandainya kita mau membenci dengan menuding Fahri Hamzah adalah orang yg paling bertanggung jawab yg membuat tinja kita lengket panjang, itu sah2 saja. Atau meletakkan dia sebagai termometer agar kita tetap berfikir waras juga gak papa. Bahkan ketika kita marah dan mengumpat “Anjing” lalu kita ganti dengan “Fahri”, juga boleh. Silakan!

Namun yg menjadi kegelisahan saya adalah ketika melihat lawan Jokowi mulai rontok satu persatu, persis di ujung jalan itu saya melihat Fahri Hamzah mulai berbalik arah dan berubah haluan. Saya justru berharap dia tetap di sebrang sana. Berdiri sebagai anti tesis pemerintah dan penguasa. Mempertahankan “ketidakwarasan”nya agar kewarasan kita tetap terjaga.

Dan nampaknya beberapa bulan ke depan nitizen akan sangat kesepian, karena bakal kehilangan twitwar Fahri Hamzah yg selalu menggemaskan. Meski begitu, marilah kita akui bahwa Fahri Hamzah dengan segala ke”asu”an-nya telah memberikan tarbiyah politik dan demokrasi untuk Indonesia.

Yaa Muqallibal Quluub, kalo sudah begini siapa yg bisa saya pisuhi lagi?

.

#fahrihamzah

Comments

comments

You might also like

Via Vallen dan Iman yang “Bergoyang”

Kami berpisah di setengah malam terakhir. Effe Unzyp, seorang Vyanisty fakir kuota melanjutkan download bokep MILF Korea. Dimas Nur kembali masyuk menikmati jaipongan koplo Mawar Bodas yg dibawakan Rena KDI

Uleg Sambel Bawangmu dan Bersiaplah untuk Melawan

Setiap kali engkau menyiapkan sambal menggunakan layah dan ulegan batu, bawang merah dari Nganjuk dan bawang putih dari Karanganyar, garam dari Madura dan terasi dari Tuban, dan gugon tuhon dari

HERO

Epos Hero bukanlah sebuah konfrontasi berdarah yang menyebabkan dunia harus berubah. Para pahlawan seperti Nameless adalah mereka yg telah mengukuhkan apa yg seharusnya stabil atas nama “perdamaian”, tanpa kita peduli

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply