Mau jadi juri lomba baca Fathul Mu’in?

Mau jadi juri lomba baca Fathul Mu’in?

Ngaji kitab kuning adalah model pembacaan teks keagamaan dalam kultur pesantren yg memungkinkan pemaknaan atas teks agar lebih cair dan bertaut dalam konteks masyarakat tempatnya berpijak. Ngaji semacam itu membutuhkan upaya sambungan emosional dan kemampuan teknikal seorang Guru dalam menguasai kaidah2 struktur bahasa untuk menterjemahkan kata demi kata, menafsirkan, dan mengkaji lembar demi lembar dengan para santri yg ngesahi – menuliskan arti kata dalam kitab kuning menggunakan huruf arab pegon. Dulu saya sebut maknani atau njenggoti, bahasa Indonesia-nya membuat terjemahan antarbaris.

Dari terjemahan antarbaris itu muncul kreatifitas pemaknaan atas teks. Dan yg lebih penting bahwa kitab2 berbahasa Arab tidak mutlak dipahami mengandung bahasa Arab semata, tapi sebagai kitab Arab-Jawa/Melayu/Sunda/dsb. Maknani kitab kuning menjadi semacam ikhtiar untuk menyandingkan dua bahasa agar mudah dipahami. Metode inilah yg kemudian membuat pemaknaan atas teks2 Arab, khususnya yg banyak berkaitan dengan Islam supaya lebih cair. Lebih lunak dan fleksibel – sebagaimana NU yg sangat lentur, moderat dan empan papan. Maka bukan kebetulan jika tradisi “ngaji” kitab kuning umumnya dilakukan di pesantren2 NU.

Saya lebih senang menyebut kitab kuning adalah salah satu pernak pernik yg harus tetap terjaga di etalase NU. Meski kita tahu bukan orang NU saja yg bisa “membaca” kitab kuning.

Lepas dari itu semua, di satu sisi saya harus memberikan apresiasi atas “kegigihan” Ikhwanul Muslimin eh… PKS – yg akhir2 ini sangat rajin menggelar lomba membaca kitab kuning. Namun disisi lain, meski gagal total memahami pangkalnya dan sulit berspekulasi di ujungnya, saya sedikit nakal menyebut musabaqah ini sebagai sebuah sinyal bahwa mereka tengah menabuh ikhtiar politik dengan melakukan invasi terhadap etalase NU…!!!

.

Sampeyan gregeten? Sama, saya juga. Lha gimana gak gregeten coba? Jangankan mikir kekampretan agenda2nya, nulis qiroah aja mereka masih salah kok ngadain lomba qiroah kitab kuning. Gitu mau jadi juri lomba baca Fathul Mu’in?

Dus tenan!

Comments

comments

You might also like

Bathoro Katong, Islam dan Ponorogo

Namanya Lembu Kenongo – kelak berganti nama menjadi Raden Fatah. Dia mengikut jejak Islam – berguru di bawah bimbingan Wali Songo di Demak. Saat kekuasaan Brawijaya V mulai meredup, Raden

Enam Puluh Menit Cuma Dapat Lima Barang

Diantara perbedaan laki2 dan perempuan yg berhubungan dengan biologi dan kebiasaan adalah cara mereka dalam mencari atau mellihat sebuah objek. Laki2 sering ketahuan sedang melirik perempuan yg lewat di sebelahnya.

Punya Iman Jangan Cengeng!

Memperingati ulang tahun Nabi Muhammad dianggap bid’ah bahkan dikafirkan, apalagi memberi ucapan selamat memperingati ulang tahun Nabi Isa. Yg hari raya orang Nasrani, yg ribut eyel-eyelan malah orang Islam. Bener

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply