Membunuh Penista Agama

Membunuh Penista Agama

Tak ada yg istimewa dari konser The Beatles di Filipina pada Juli 1966. Namun siapa sangka John Lennon dan teman-temannya harus menuai masalah justru setelah konser usai. Ibu negara Imelda Marcos marah besar. Pasalnya, The Beatles menolak undangan konser di istana Malacanang Manila. John Lennon menjelaskan bahwa pertunjukan di istana tidak ada dalam jadwal konser, “Jika ingin pertunjukan datang saja ke kamar kami”. John memang bengal, dia tak peduli bahwa negara yg tengah dikuasai rezim itu, perintah kepala negara adalah sabda yg harus dilaksanakan oleh siapapun tanpa alasan. Beruntung mereka berhasil keluar dari Filipina sebelum dihabisi antek-antek fasis yg cinta mati pada keluarga Marcos. Dengan senyum kebencian John berhasil menistakan Imelda Marcos.

Meski menjadi ikon pop pujaan gadis-gadis, John memang sangat bajingan. Bukannya belajar dari pengalaman sebelumnya, dia malah membuat masalah yg lebih besar. Jika di Filipina dia berhasil membuat murka rezim Marcos, kali ini dia membuat marah umat Kristiani sejagat raya. Pernyataan John bahwa “The Beatles lebih terkenal daripada Yesus” kontan membuat darah umat Kristiani mendidih. Mirip-mirip Ahok yg tersandung Al Maidah 51. Bedanya, John terang-terangan ingin mengucapkan itu, sedangkan Ahok dipelintir arus politik.

Dengan terbata-bata John akhirnya meminta maaf. Terlambat. Maaf itu disampaikan setelah poster dan piringan hitam serta pernak pernik The Beatles dibakar habis oleh umat yg merasa ternistakan.

John adalah pemikir yg sangat peka. Dia tahu persis bahwa televisi sebagai media favorit yg tengah digandrungi waktu itu memang lebih poluler daripada Yesus. Budaya pop sebagai gaya hidup dan pujaan anak muda tahun 1960an ternyata lebih ngetrend serta telah berkembang jauh lebih populer dibandingkan agama apapun di dunia.

“Beatles lebih berarti bagi anak-anak daripada Yesus atau agama pada waktu itu. Saya tidak bermaksud melecehkan atau merendahkan, saya hanya mengatakan itu sebagai fakta”. Begitulah ucapan John Lennon yg membuat kuping siapapun panas.

Sebagaimana kita tahu, sejak awal John memang tak mau berdamai dengan agama apapun. Ketika berkunjung ke India – negara yg kental dengan nafas spiritual pun tak membuatnya serta merta menyembah Tuhan. Dia menulis ketidakpercayaannya kepada Yesus, Budha, Injil, Taurat pada lagu “God” yg dirilis tahun 1970. Entah kebetulan atau gimana, dia tidak membawa-bawa Muhammad pada lagu tersebut. John Lennon selamat. Dia lolos dari cincangan atau fatwa mati seperti yg pernah disematkan umat Islam dunia pada Salman Rushdie – “Ayat Ayat Setan”.

John sangat membenci perang. Dia selalu beranggapan bahwa agama, surga dan neraka itu tak penting dan tak perlu ada. Dia muak melihat perang atas nama agama yg menjanjikan surga sebagai imbalan kemenangan. Khayalannya itu terangkum pada lagu “Imagine” – 1971, saat perang dingin berlangsung dan dikenal sebagai lagu perdamaian dunia. Hingga sekarang.

John Lennon membuka dialog “imagine there’s no heaven” pada baris pertama lagu Imagine. Dia seolah ingin mengatakan bahwa tak perlu ada surga jika itu hanya tujuan perang – terutama yg mengatasnamakan agama. John juga bermimpi tak ada negara dan neraka. Dia berpendapat – seperti Marx – bahwa agama adalah candu, dan sebaiknya tak perlu ada. Jika negara dan agama tidak ada, tentu tak ada pertumpahan darah. Living life in peace.

Dalam buku “Lennon in America” karya Geoffrey Giuliano dijelaskan, bahwa Imagine sebenarnya adalah lagu anti agama, anti nasionalisme, anti konvensional dan anti kapitalistis. Namun lagu ini diperhalus sehingga dapat diterima berbagai kalangan.

Bagaimanapun John tetap saja seorang penista – yg tak pernah jera. Dari tahun ke tahun dia terus “menista” tapi dengan cara yg lebih halus. Dia belajar dari kecerobohan ketika membandingkan The Beatles dan Yesus.

Lalu datang sebuah masa, dimana seorang fans berat The Beatles – Mark David Chapman datang ke apartemen John Lenon. Dengan Revolver Colt 38 terselip, dia meminta tanda tangan pada album Double Fantasy. Setelah John membubuhkan tanda tangan dan hendak memasuki pintu apartemen, Chapman memanggil John sambil mencabut pistol dan menembaknya berkali-kali. Sang bintang tumbang. Hanya Tuhan dan David yg tahu rencana pembunuhan itu. Hidup John Lenon paripurna pada usia 40 tahun.

Mark David Chapman mungkin seperti juga remaja-remaja sekarang pemuja Britney Spears atau boyband negara kapitalis macam Amerika dan Inggris, dia juga penggemar berat The Beatles kala itu. Namun takdir membelokkan jalan hidup Chapman hingga akhirnya memilih menjadi seorang Kristen garis keras yg kemudian tumbuh menjadi pembenci liberalisme, kapitalisme, bahkan demokrasi – termasuk budaya pop dan The Beatles di dalamnya.

Tepat tiga puluh enam tahun silam, 8 Desember 1980 dunia berkabung atas meninggalnya seorang superstar. Sosok yg pernah dianggap menistakan umat beragama. Namun hingga hari ini lilin itu tetap menyala untuk menghormati John Lennon pecinta kedamaian.

Meski banyak spekulasi yg berkembang mengenai konspirasi pembunuhan itu, tak dipungkiri bahwa John Lennon sedari muda memang selalu senang menggugat otoritas. Baik otoritas negara maupun otoritas agama.

John Lennon adalah ikon perdamaian. Namun kita juga sadar, di ujung sana ada kelompok yg telah menstigmanya sebagai sebagai seorang penista. Permintaan maaf dan halusnya kata-kata dalam “Imagine” nyatanya tak mampu menyelamatkan dia dari kematian yg brutal. Meregang nyawa di tangan fans nya sendiri – seorang umat yg pernah dia nistakan agamanya.

Dunia tidak berubah, meski si penista berhasil dilenyapkan. Umat tidak menjadi lebih baik atau sejahtera, dan gereja tidak serta merta menjadi lebih banyak.

Hari ini sejarah itu datang membawa pesan yg sama : Dunia tidak akan berubah menjadi lebih baik hanya dengan membunuh dan melenyapkan – bahkan kepada seorang penista agama sekalipun.

 

Comments

comments

You might also like

Legenda Pendekar Lendir

Nama Enny Arrow pernah sangat hits di Indonesia. Versi stensilannya banyak beredar di kalangan muda saat itu. Jelas, generasi saat ini sudah tidak ada yang mengetahui salah satu penulis yang

Mlaku Mbungkuk Nang Ngarepe Wong Tuwo

Inilah Budaya Nusantara yang sangat cocok dengan misi Nabi Kita Muhammad saw. “Innama Buitsu Liutamimma Makarimal Akhlak” Mlaku mbungkuk disini maksudnya adalah berjalan membungkuk saat lewat di depan orang yang

Bathoro Katong, Islam dan Ponorogo

Namanya Lembu Kenongo – kelak berganti nama menjadi Raden Fatah. Dia mengikut jejak Islam – berguru di bawah bimbingan Wali Songo di Demak. Saat kekuasaan Brawijaya V mulai meredup, Raden

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply