Memenangkan Rasa

Memenangkan Rasa

Sayyidina Ali urung menghunus pedang kepada musuh yg sudah dipitingnya. Beliau takut bahwa kemarahanlah yg menguasai sabetan pedangnya. Para Pandawa menangis sesenggukan, memanjatkan doa2 suci ketika para Kurawa rebah di tanah.

Rasa menang ada akhir. Rasa kalah ada batas. Kalah itu bukanlah aib, pun jangan sampai kemenangan membuat jumawa dan nista. Karena petarung sejati hanya pantas menikmati “rasa pertempuran”. Waktunya kita pulang. Ngopi, sembari mempelajari peta dan menyusun strategi “pertempuran” berikutnya.

Begitu seterusnya….

Comments

comments

You might also like

Salam Bahagia Buat Hayati

Hayati….. kamu jangan lelah dulu ya. Sini aku kasih cerita – dialog tentang Indonesia : – Yai, jika kita melihat negara lain di luar, kelihatannya lebih maju dan lebih makmur

Valentine Bersama Dilan, VIcky dan Suliyono

Dilan boleh menjadi tolak ukur bagaimana cinta menjadi syahdu untuk diungkapkan. Namun bicara soal bagaimana cinta harus perjuangan, dia wajib berguru kepada Vicky Prasetyo. Pemuda ganteng yg hanya bisa mbribik,

Surat Untuk Anakku

Sengaja Ayah bikin tulisan ini secepatnya. Tulisan yg justru tak segera bisa kamu baca. Sebuah surat tanpa perantara dan space sekian mega. Anggap saja semacam permintaan maaf dan pengakuan orang

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply