Menangislah

Menangislah

Menangis. Bisa jadi adalah skala termometer paling tinggi dari sebuah ironi. Kau terlahir menangis, tapi orang2 tertawa menerima kehadiranmu. Kau mati, mereka menangis ketika kau (seharusnya) tertawa. Kau seharusnya tertawa, mengapa malah terharu lalu menangis ketika berbahagia? Mereka terlihat sangat tegar, namun air mata tak mampu menutupi kesedihannya.

Siapapun boleh menangis. Petani tembakau, tukang ngopi, ibu-ibu Kendeng, jomblo permanen, ustad galau, pendemo, pendeta, korban gusuran, teroris, Jessica, Luna Maya, bahkan sekalipun dia yg kau tuduh penista.

Sesekali kita perlu menangis – bukan meratap atau menyerah. Tapi untuk kembali mengakui tentang sebuah ketidakberdayaan. Untuk selalu mengingat Yang Maha Berdaya berhak atas asal muasal air mata.

Gek ngomong opoooh….? Ng nganu, sekedar mengingatkan bahwa air mata itu 10% terbuat dari air, 90% dari perasaan.

#………………

Comments

comments

You might also like

Omong kosong ibadah haji

Secara akal sehat rukun Islam yg pertama hingga keempat masih bisa dinalar. Syahadat, sholat, zakat dan puasa jelas bacaan, gerakan dan tujuannya. Lha kalo haji? Thawaf itu ya cuma jalan2

Ulat Jambu Bertubuh Gempal

Sepasang kadal menepi dibawah batang talas. Mereka kawin dan berbahagia, di tepi gerimis yg membilas seperempat hari pada sore yg malas. Tuhan memberi senyum dan mengulurkan welas bukan hanya pada

Semua Akan Koplo Pada Waktunya

2003. Rhoma Irama murka, pakem dangdut yg ia bangun selama puluhan tahun perlahan hancur sejak kemunculan Inul Daratista. Inul membawakan gagrak baru dangdut yg lebih cepat, kental dengan irama Jaipong

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply