Menjadi Pendidik yang Baik

Menjadi Pendidik yang Baik

Paha disensor, dada diblur, orang renang cuma keliatan baju ngambang di air, rokok ditutup. Tupai berbikini, pentil sapi, pantat kambing, penis kuda, semuanya disensor.

“Dad, is it wrong for horses to have penis? Is it wrong for women to have breasts?”

“No, darling. It is not. But we live in a wrong society with wrong adults, wrong governance, and absolutely wrong system“.

Itu jawaban saya. Bagaimana tidak, selama ini orang tua (termasuk kita) hanya bisa memerintah dan melarang serta acuh memberi pendidikan dan pemahaman yg gamblang.

“Jangan pulang larut malam, tak baik”. Ada larangan – tak ada pendidikan.

“Kalau ada adegan ciuman tutup mata ya, belum dewasa”. Ada perintah – tak ada pendidikan.

“Makan harus duduk, tak boleh sambil berdiri, pamali”. Ada perintah, ada larangan – tak ada pendidikan.

Belum lama ini sebuah video viral menunjukkan sekelompok orang menggerebek sepasang muda-mudi, kemudian mengaraknya telanjang keliling kampung tak jelas musababnya. Mereka juga berteriak memaki sepasang anak muda itu. Inilah refleksi masyarakat kita. Masyarakat yg senang menghakimi dan menyalahkan, lalu membumbuinya dengan tindak kekerasan yg biadab.

Jangan mesum. Titik. Tanpa penjelasan lebih lanjut kecuali zina dan berdosa. Seoalah-olah tak ada cara mendidik yg lebih diterima akal sehat dari sekedar dogma untuk mereka. Bahaya hamil diluar nikah atau penyakit kelamin/menular misalnya. Mengapa tidak ada dialog? Mengapa kita justru bangga dengan kebodohan dan senang merayakannya dengan cara-cara yg seringkali tak manusiawi?

Tak ada pemahaman dan pengetahuan mengapa “ini boleh” atau “itu tidak boleh”.

Sesungguhnya mendidik itu proses memberi literasi – keadaan mengetahui dan memahami suatu hal. Lalu membangun reasoning atasnya, bukan mendoktrin benar salah tanpa memahami dasarnya.

Kita tentu sudah kenyang dengan doktrin pendidikan masa lampau. Pan-ca-si-la. Satu, bla bla bla. Dua, bla bla bla, dst. Di kemudian hari, apakah kita ngerti apa itu esa, beradab, bersatu, musyawarah dan berkeadilan? Ada yg gak beres dengan pendidikan kita, ketika melihat masih banyaknya kasus persekusi dan main hakim sendiri di tengah masyarakat saat ini. Atau barangkali kita memang tak benar-benar paham menjadi manusia – yg adil dan beradab. Sungguh sebuah kebodohan yg terus dilestarikan. Hingga sekarang!

Kabarnya, sepasang muda-mudi belia itu akhirnya dinikahkan – sebagai hukuman sekaligus menyelamatkan mereka dari perbuatan zina. Meyelamatkan? Duh Gusti, belum kelar trauma karena ditelanjangi, kini mereka dibenturkan ke dalam situasi yg lebih berat. Dipaksa menempuh fase yg membutuhkan kematangan mental dan berfikir yg tak mudah dilalui oleh anak seumuran mereka. Siapa yg bisa menjamin pernikahan itu adalah sebaik-baik pendidikan untuk mereka?

Lantas bagaimana dengan anak-anak kita yg masih lugu dan rapuh karena fisik dan mental yg belum matang untuk membentengi dirinya dari upaya pembodohan jaman? Sudahkah kita menjadi pendidik yg baik buat mereka? Yg mau mendengarkan dan memahami. Yg tak pernah bosan memberi pengetahuan, keahlian, dan juga kompetensi tanpa harus melarang atau menyalahkan.

Tapi sebelum itu, sudahkah kita menjadi pendidik yg baik bagi diri sendiri?

Comments

comments

You might also like

Mengenal Steve Job Sang Maestro

Steven Paul Jobs lahir di San Francisco, California, Amerika Serikat, 24 Februari 1955 adalah pemimpin perusahaan Apple Computer bersama Steve Wozniak dan tokoh utama di industri komputer. Sebagai pendiri (dengan

Paris Hilton di Makah

November 2012. Muhammad Michael Knight, seorang mualaf Amerika menulis sebuah esai berjudul “Paris Hilton in Mecca”. Knight dikenal sebagai penulis radikal karena perspektifnya tentang islam yg fundamentalis namun bersikap toleran.

Kamu Terbuat Dari Apa Sih….?

Nyengir adalah ketika melihat anak mengisi biodata, lalu ketemu kolom pekerjaan orang tua dan bertanya “Ayah nih pekerjaannya apa sih?”. Karena biasanya kolom pekerjaan hanya terisi pegawai atau wiraswasta (dan

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply