Ode to My Friend : Meina Helmy

Ode to My Friend : Meina Helmy

“Halo Ibu, dihadapan saya ada tentara GAM dengan senjata terbidik. Saya tak bisa menghindari kontak ini atau mencari jalan lain agar tak terjadi pertumpahan darah. Sekarang saya harus memilih : membunuh atau dibunuh. Ibu, saya mohon maaf, ijinkan saya untuk membunuh”.

Begitulah perbincangan via hp seorang Meina Helmi kepada ibunya sebelum membunuh – untuk pertama kali sepanjang karir militernya. Baru kali ini pula saya mendengar ada seorang tentara yg minta ijin membunuh musuh bukan kepada komandannya tapi kepada Ibunya.

 

Image may contain: 2 people, people smiling, people sitting

Comments

comments

You might also like

Jangan Takut Nak

Jangan takut nak. Hidup memang tak selalu tenang seperti yg kau harapkan, pun tak setengik yg kau fikir. Dia akan menghempaskanmu, lalu menyeretmu dalam kubangan ombak yg bertubi-tubi. Terkadang dia

Selamat Ulang Tahun Ponorogo

Ponorogo adalah kota unik. Ia kota kuno yang seringkali menjadi lokasi “persembunyian politik” maupun “pertimbangan politik” sejak era Kerajaan Medang Kamulan. Airlangga, yang kelak menjadi penguasa Kahuripan sejak 1019, ditempa

Cerita Kiai Irfan Kepada Habib Luthfi Sebelum NU Berdiri

Maulana Al Habib Luthfi Bin Yahya dawuh: Dulu saya sering duduk di rumahnya Kiai Abdul Fattah, untuk mengaji. Di situ ada seorang wali, namanya Kiai Irfan Kertijayan. Kiai Irfan adalah

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply