Omong kosong ibadah haji

Omong kosong ibadah haji

Secara akal sehat rukun Islam yg pertama hingga keempat masih bisa dinalar. Syahadat, sholat, zakat dan puasa jelas bacaan, gerakan dan tujuannya. Lha kalo haji?

Thawaf itu ya cuma jalan2 mengelilingi sebuah kubus besar, tak ada rukun dan doa apapun yg diwajibkan. Kita bisa thawaf sambil ngerumpi harga garam tanpa takut kehilangan keabsahannya. Wira wiri Shafa-Marwah malah tak ada syarat bersucinya. Ayo apalagi?! Wukuf? Kongkow2 di padang luas nan gersang. Boleh sambil rebahan, tiduran atau pura2 pingsan. Melempar jumroh. Membidik tembok dengan kerikil2 kecil, kayak orang iseng gak ada kerjaan. Sa’i – motong rambut sak uprit – malah lebih menggelikan. Gampang sih bagi yg punya rambut, kalo yg berkepala botak plontos gimana coba? Yg lebih mengherankan kalo kita daftar haji sekarang, mungkin harus menunggu dua kali pilpres baru bisa berangkat. Udah mahal, ngantri pula.

Omong kosong. Apa yg masuk akal dari itu semua?!

Dulu ketika Jumrah masih tiang yg ramping dan para jamaah harus berebut membidiknya, ada seorang jemaah haji yg frustrasi. Sedang konsentrasi mengincar, tangannya kesenggol hingga kerikilnya jatuh. Ia ulangi lagi, kesenggol lagi jatuh lagi. Ia ulangi, begitu lagi. Terus sampai entah berapa kali. Hingga di puncak kekesalan ia pun menjerit.

“Yaa Allaah. Ini ngibadah cap opoooo?!”

Tak bisa dijelaskan bukan berarti tak ada penjelasan. Kita hanya tak tahu atau tak menemukan kata2 untuk mewakilinya. Jika kita sungguh percaya, ada semacam perasaan yg merembes dan mengendap ke dalam jiwa saat melaksanakannya. Terpatrinya rasa yg menyertai hingga kapan saja. Menghangati jiwa dengan penuh rasa rindu.

Mimpi abadi untuk terus menerus mengulangi dan mengunjungi rumahNya lagi.

Bukan soal keinginan dan kemampuan. Haji secara lughawi berarti menyengaja atau menuju dan mengunjungi. Sebuah panggilan menuju puncak keimanan – agar patuh disuruh apa saja. Bahkan untuk melakukan pekerjaan2 lucu, tak masuk akal sehat kita dan tak lebih dari omomg kosong belaka

Comments

comments

You might also like

Membunuh Penista Agama

Tak ada yg istimewa dari konser The Beatles di Filipina pada Juli 1966. Namun siapa sangka John Lennon dan teman-temannya harus menuai masalah justru setelah konser usai. Ibu negara Imelda

Eksklusif Bersama Ahmad Dhani

Sehari setelah memenuhi panggilan Polda Metro Jaya sehubungan dengan laporan ujaran kebencian yg ditujukan kepada musisi Ahmad Dhani, koresponden Media Kecebong berhasil menemui Presiden Republik Cinta yg pernah maju di

Plus Minus Beragama

Namanya Christian Hintze. Dia tidak suka agama, lalu mengganti namanya menjadi Ide Hintze. Di negaranya mereka yg dibabtis waktu bayi boleh meninggalkan gereja dan membuat deklarasi di kantor catatan sipil

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply