Para Bajingan yang Menyenangkan

Para Bajingan yang Menyenangkan

Salah satu kenikmatan hidup adalah mempunyai teman-teman yg suka ketawa dan bawel, meski kadang selalu merepotkan. Sialnya, saya masuk ke dalam barisan kelompok yg kalau tidak over dosis ya telat obat – yg bahkan pada situasi rumit-pun masih sanggup menulis dan berkomentar hanya untuk mentertawakan diri sendiri. Ini tidak mudah, sebab membuat kelakar dan humor setidaknya butuh dua atau tiga cara berfikir yg berbeda namun tetap satu ikat kesimpulan yg sama. Tanpa otot yg menegang, ke dalam harus menjadi koreksi diri, keluar bisa menjadi pencerahan bagi yg lain. Uhuk..

Saya kasih contoh. Jakarta banjir, otomatis Bung ASU (Anies – Sandiaga Uno) langsung jadi bahan olok-olok yg perihnya tak cukup disembuhkan dengan betadine kapsul. Yg tidak suka sontak menyerang dan mentertawakan, sedangkan yg pro membela mati-matian tanpa logika. Jarang yg punya nyali untuk berani mengkritik dan mentertawakan diri sendiri. Mengakui kesalahan dan intropeksi terhadap pilihannya. Namun tidak lantas menjadi lemah, syukur-syukur malah memberi solusi bagi Ibukota. Intinya, dalam situasi apapun kita ditantang selalu siap menjadi “lucu”. Dan tertawa!

Penting juga untuk dimaklumi, berada dalam satu kotak dengan teman-teman yg selera humornya cenderung sarkas mensyaratkan penebalan iman yg cukup rumit agar tak salah sambung dan salah paham. Saya sadar, memeluk madzhab macam ini memang bukan jaminan masuk surga, tapi setidaknya saya merasa tidak dekat dengan neraka. Kenapa? Karena mereka membawa kesejukan. Gak gampang kepanasan. Gak mudah terintimidasi dan terprovokasi. Persis gambaran jannah yg anyep, plus tujuh puluh bidadarinya yg hangat. Sumbu mereka juga relatif panjang. Saking panjangnya, seringkali ketika saya nyetatus selalu diprotes, diolok-olok, disindir, bahkan dipisuhi fasih, lengkap dengan tajwid dan mahrojil huruf yg sempurna. Udah serius bikin tulisan malah dikomen berpuluh-puluh baris yg gak nyambung babar blas. Afuuuuu…!

Posting selfi dituduh sok ganteng. Upload makanan dibilang kemaki. Baca Mahabharata dikira sok milsapat dan keduwuren. Bahkan sekalipun saya unggah photo lagi baca Al Quran pasti dibilang sok alim dan riya. Hajinguk pora nyuk?

Tapi jujur, dari mereka saya banyak belajar. Komentar mereka adalah cermin yg lebih jujur dari sekedar jempol basa-basi. Tak ada jalan lain bagi saya kecuali bersyukur dalam segala hal, termasuk berlapang dada menerima anugerah pertemanan yg sederhana ini.

Kata orang bahagia itu sederhana bla bla bla. Halah basi! Kebalik.

Bagi saya, sederhana itu bahagia! Salah satu contohnya mempunyai teman yg ……. bajingan!

Comments

comments

You might also like

Omong kosong ibadah haji

Secara akal sehat rukun Islam yg pertama hingga keempat masih bisa dinalar. Syahadat, sholat, zakat dan puasa jelas bacaan, gerakan dan tujuannya. Lha kalo haji? Thawaf itu ya cuma jalan2

Issue Seputar Konflik Rohingya

Hafiz Mohammad Yunus, adalah salah satu pengungsi asal Myanmar. Ia tercatat sebagai salah satu dari hampir 1.000 orang Rohingya bersama ratusan migran Bangladesh yang mendarat di Aceh pada bulan Mei

HERO

Epos Hero bukanlah sebuah konfrontasi berdarah yang menyebabkan dunia harus berubah. Para pahlawan seperti Nameless adalah mereka yg telah mengukuhkan apa yg seharusnya stabil atas nama “perdamaian”, tanpa kita peduli

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply