Reuni 212

Reuni 212

Boleh dikata 212 adalah simbol pergerakan Islam di Indonesia yg telah lama terdiam dan disisihkan. Kita bisa berdebat tentang jumlah. Tapi kalau mau jujur, 212 adalah aksi masa terbesar yg pernah terjadi setelah hampir dua puluh tahun reformasi, bahkan mungkin selama negara ini berdiri. Para alumnus itu – pada level paling bawah – bisa jadi orang-orang biasa, yg religius atau mendadak religius. Lalu mengalami kebangkitan berekspresi dengan cara yg religius. Mereka menemukan momentum, sebab ekspresi-ekpresi itu telah lama tenggelam dalam palung hegemoni narasi sekulerisme yg membuncah di akhir peradaban ini.

Reuni 212 bicara tentang memori kolektif akan sebuah peristiwa besar, juga perasaan yg solid, bersatu dalam sujud. Ada kebanggan, sakral dan air mata yg menggetarkan.

Ketika yg lain sibuk berdebat tentang demokrasi sektarian, demokrasi liberal, intoleransi, Jakarta bersatu, atau ancaman kebhinekaan – sebagian besar peserta 212 boleh jadi punya pandangan yg amat sederhana yaitu solidaritas keagamamaan. Atmosfir 212 telah menghadirkan simbol Islam – ritual berjamaah misalnya. Sholat bersama puluhan ribu sesama seiman tentu membangkitkan emosi tersendiri. Dan di sepersekian detik kitapun sadar, menjadi muslim 212 tidak otomatis intoleran atau anti kebhinekaan. Ada spirit yg tak bisa dilukiskan, bahkan oleh air mata ketika bertakbir dan sujud bersama.

Mereka juga bukan tidak tau, tapi tidak mau tau dengan agenda tengik. Dalam beberapa menit ketika bersujud, mereka tidak lagi peduli pada politik, pada Ahok, Jokowi, atau riuh Pilkada DKI. Juga Al Maidah. Mungkin ini salah, mungkin terlalu jauh, tapi siapa yg berani bersumpah tak mungkin terpeleset dan jatuh? Mereka bisa jadi tak punya motif sekterian dan politik praktis.

Panggung dibongkar. Bendera dilipat, panji-panji telah diturunkan. Di ujung gempita itu kita patut bertanya, benarkah mereka merindukan nafas agama?

Atau… mungkinkah mereka hanya butuh piknik gratis, having fun dan tamasya ke ibukota?

Wallahu’alam…

Comments

comments

You might also like

Selamat Jalan Dolores

Awal Januari. Dolores memposting photo selfie bersama kucingnya dengan caption ‘Pergi ke Irlandia’. Siapa sangka kalimat itu menjadi penanda dia benar-benar hendak ‘pergi’ ke tanah kelahirannya? Bulan Januari memang belum

Kekonyolan Sandiaga Uno

Setelah melalui serangkaian sidang yg sangat melelahkan, Ketua DPP Aliansi Lambe Juweh menetapkan Sandiaga Uno sebagai sebagai Man of The Year 2017. Sempat diwarnai perdebatan dan intimidasi beberapa pihak untuk

MUEEZA

Seorang sahabat Nabi sekaligus ahli hadist yg bernama Abdurrahman bin Sakhr Al Azdi diberi julukan Abu Hurairah (bapak para kucing jantan), karena kegemarannya dalam merawat dan memelihara berbagai kucing jantan dirumahnya. Meeeooow…….

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply