Semua Akan Koplo Pada Waktunya

Semua Akan Koplo Pada Waktunya

2003. Rhoma Irama murka, pakem dangdut yg ia bangun selama puluhan tahun perlahan hancur sejak kemunculan Inul Daratista. Inul membawakan gagrak baru dangdut yg lebih cepat, kental dengan irama Jaipong dan Jaranan. Sudah barang tentu dengan modifikasi goyangan. Melalui Paguyuban Artis Musik Melayu Indonesia (PAMMI), Bang Haji menghimbau kepada stasiun televisi untuk memboikot Inul – seorang penumpang gelap yg kerap membuat penonton ‘panas’. Ia dinilai telah melanggar batas kewajaran dan berpotensi merusak moral bangsa. Biduan asal Pasuruan Jawa Timur itu juga dituduh menodai konstitusi Kerajaan Dangdut yg selama ini Rhoma kuasai. Sebab, bagaimanapun juga kita harus mengakui, sangat sulit menemukan musisi yg mempunyai akar musikalitas kuat seperti Rhoma Irama.

Buah pertikaian Inul dan Rhoma mengisyaratkan dua hal. Pertama, berdiri di zona aman sebagai Raja Dangdut membuat Rhoma Irama lengah sehingga lupa nilai-nilai akulturasi yg sempat ia bawakan. Ia kurang peka terhadap transformasi budaya yg terus berkembang. Kedua, gagrak baru dangdut tanah air mulai berubah meninggalkan pakemnya, berselingkuh dengan berbagai genre musik dan melahirkan anak haram bernama dangdut koplo.

15 tahun sejak perseteruan anak ingusan bernama Inul Darastita dengan Rhoma Irama, dangdut koplo semakin berkembang dan mengalami transformasi mencengangkan. Dari gaya bernyanyi yg jauh berbeda dari era Ellya Khadam atau Ikke Nurjanah, gaya busana yg jauh dari kata seronok, hingga cara pemasaran yg sangat masif dengan mamanfaatkan teknologi internet – menjadikan dangdut koplo sebagai salah satu fenomena peradaban budaya di tanah air yg tak bisa dipandang sebelah mata.

Jika dirunut ke belakang, dangdut koplo sendiri sebenarnya lahir dari akulturasi budaya yg meleburkan pengaruh satu sama lain. Berakar pada tarian ronggeng di pedesaan Jawa, dangdut koplo menjadi kaya karena tak sekadar menyerap pengaruh Melayu atau India, melainkan juga musik metal, house, dan seni rakyat lain seperti jaranan, jaipong, bahkan ludruk. Di sisi lain, koplo lebih cepat diterima karena liriknya mampu merepresentasikan kondisi sosial secara lugas dan lebih terbuka. Simak saja Bojo Galak, Suket Teki, Tewas Tertimbun Masa Lalu – adalah cuilan kecil icon seni paling sempurna dalam mengungkap kenyataan hidup sehari-hari. Dangdut koplo seolah ingin menyampaikan pesan sederhana; seperih apapun nasibmu, jangan lupa bernyanyi dan teruslah bergoyang.

Balakangan kita mengenal nama-nama yg polularitas dan jadwal manggungnya tak kalah dari orang penting di negeri ini. Ratna Antika, Selly Marcelina, Eni Sagita, Reza Lawangsewu, Rena KDI, Brodin, Sodik, hingga Nella Kharisma dan Via Vallen. Mereka membawakan lagu-lagu yg ringan di kuping. Liriknya lugas dalam bauran Bahasa Indonesia dan bahasa Jawa khas Jawa Timur yg apik. Maka tak mengherankan jika sederet penyanyi dari berbagai aliran musik pada akhirnya bersimpuh untuk bisa berduet dengan mereka dalam atraksi musik koplo yg sulit dibendung.

Sebut saja Via Vallen, dara 27 tahun yg popularitasnya dilahirkan dari rahim dangdut koplo ini telah berduet dengan puluhan penyanyi kondang seperti Didi Kempot, Wali Band hingga Iwan Fals. Ia juga rajin mengkoplokan lagu-lagu tenar seperti Despacito, Akad – Payung Teduh, atau Asal Kau Bahagia – Armada, hingga Sunset di Tanah Anarki – Superman is Dead. Siapapun, penyanyi dari berbagai genre dan lagu apapun berhasil Via seret ke ranah koplo dengan sempurna.

Lebih dari soal hiburan, hari ini kita juga menyaksikan Calon Gubernur Jawa Timur Gus Ipul telah bertekuk lutut dihadapan Via Vallen dan Nella Kharisma. Hal tersebut membuktikan bahwa dangdut koplo telah berhasil menembus berbagai batas hingga urusan politik – dimensi paling kacau di negeri ini.

Belajar dari pengalaman demo berjilid-jilid atas nama agama dua tahun terakhir ini, memunculkan satu spekulasi, apakah dangdut koplo pada akhirnya juga akan diperkosa dan dipolitisasi oleh segelintir kepentingan? Wallau’alam.

Tapi saya yakin, kendang Cak Met dan senggakan Cak Sodik telah menandaskan satu hal yg mustahil dihindari :

Semua akan koplo pada waktunya.

 

Comments

comments

You might also like

Kalo sudah begini siapa yg bisa saya pisuhi lagi?

Fahri Hamzah. Dia memang bukan Fahri dalam novel Ayat Ayat Cinta – sosok sempurna idaman para calon mertua. Kebanyakan orang menganggap Fahri Hamzah adalah salah satu pusat kontroversi di negeri

Masih Seputar Jilbab

Rina Nose bukan selebriti pertama yg melepas jilbab. Ada Tri Utamie, Rossa, Marshanda, Tya Subiyakto yg lebih dahulu melakukannya. Tak tanggung-tanggung Sukayna, cicit Rasulullah, juga menolak mengenakan jilbab. Tapi tentu

Trump Musti Belajar Demokrasi dari Jokowi

Soeharto mendata keluarga para mantan anggota PKI, lalu menyematkan tanda tapol pada mereka. Memimpin sebuah rezim dengan mengucilkan tujuh turunan yg terduga komunis. Mencabut segala hak warga negara yg wajib

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply