Vaksin Palsu, Tembakau, dan Ketabahan Rakyat Indonesia

Vaksin Palsu, Tembakau, dan Ketabahan Rakyat Indonesia

Dunia itu perlu belajar ketabahan dari masyarakat Indonesia. Kalau bicara ketabahan menghadapi musibah, rakyat Indonesia itu juaranya. Bukan hanya soal bagaimana menghadapi bencana fisik seperti tsunami, banjir, gempa bumi, dan gunung meletus. Tapi juga menghadapi bencana nonfisik yang disebabkan kelalaian dan kebodohan segelintir orang.

Yang paling hot adalah kabar menyedihkan datang dari kompleks mewah Perumahan Kemang Pratama Regency, Bekasi pada 22 Juni lalu. Sepasang suami istri berwajah teduh, kece-kece, dibungkus tampilan saleh, dicokok polisi usai salat tarawih di masjid perumahan itu, di depan jemaah lainnya.

Suami istri bernama Hidayat Taufiqurahman dan Rita Agustina ini sejak 2003 memulai bisnis pembuatan vaksin palsu. Bayangkan saudara-saudara, ini vaksin palsu. Iya, ini vaksin yang dipercaya bakal menjadi pertahanan tubuh balita seperti polio, BCG, dan campak. Vaksin yang dipercaya bakal menjadi investasi jangka panjang kesehatan anak-anak kita. Yang mengerikan, kata Kepala Polri Jenderal Badrodin Haiti, bisnis rumahan dari pasangan bekas perawat ini sudah menyebar ke seluruh Indonesia.

Publik tercengang. Marah, gondok, bête, sedih dan bertanya-tanya, bagaimana dengan anak kita. Saya, sebagai seorang ibu dari anak yang lahir pada 2004 tentu masygul berat. Apakah vaksin yang dimasukkan ke tubuh anak saya itu palsu? Lalu bagaimana dia kelak? Apakah dia tahan terhadap penyakit? Apakah berarti runtutan vaksin yang terjadwal ke tubuh anak-anak kita itu pekerjaan sia-sia. Doh, kalau gak ingat hukum, ingin rasanya menjejali mukanya dengan sambal bercabai seratus. Eh jangan ding, cabai lagi mahal.

Dan publik hanya tersenyum tabah, sambil nyengir tentu saja, saat melihat tebaran gambar-gambar kemewahan yang diraup pasangan suami istri itu di media sosial. Rita, begitu bangga mengunggah gambar mobil sport Pajero Dakarnya. Keberhasilan yang dicapai dengan ‘kerja keras’, berkat menipu masyarakat Indonesia selama belasan tahun. Rumah lengkap dengan kolam renang. Sungguh prestasi membanggakan yang tak mungkin dicapai hanya dengan bekerja penuh pengabdian sebagai perawat.

Bayangkan, dengan membuat pabrik rumahan vaksin palsu ini, Rita dan suami bisa meraup untung Rp 25-30 juta per minggu. Itu berarti untung Rp 100 jutaan per bulan. Cukup menabung penuh selama lima bulan untuk mendapatkan Pajero Dakarnya. Asik kan. Peduli amat, jutaan anak-anak rentan sakit karena vaksin yang disuntikkan itu cairan infus saja. Demi ‘desakan ekonomi’ dan menopang kebutuhan ekonomi keluarga Pajero, tak usah sok-sok-an memperlihatkan empati. Yang penting, hidup kaya raya, pajero di samping kita.

Ketabahan masyarakat Indonesia makin mengagumkan ketika Ibu Menteri Kesehatan yang baik hati, Nila Moeloek mengatakan, tak perlu merisaukan vaksin palsu itu karena konon tidak sampai menimbulkan korban jiwa. Katanya, tak ada kata terlambat untuk mengulang vaksin. Dan vaksin akan diberikan secara gratis.

Pertanyaannya: Bu, bagaimana kita bisa memastikan vaksin yang dimasukkan ke dalam tubuh anak saya ini palsu atau bukan. Dan bagaimana saya bisa mendapatkan jaminan vaksinasi ulang secara gratis sementara buku vaksin sudah hilang karena prinsip paperless itu. Iyalah, hare gene gitu lho. Kita kan go green, Bu. Mana mungkin saya menyimpan dokumen vaksin selama 10 tahun.

Tapi ya sudahlah, kita cukup tabah menerima penegasan yang tidak meyakinkan ini. Syukur Alhamdulillah, anak-anak Ibu Menteri sudah dewasa, tidak ikut merasakan gundah gulana kami ini para mamah muda yang punya anak mungkin terpapar vaksin palsu itu.

Ketabahan berikutnya, manakala kita membaca bagaimana sentosa dan gigihnya para pengusul Rancangan Undang-Undang Pertembakauan agar dipercepat pembahasannya dan segera menjadi undang-undang yang pro industri tembakau. Mereka, para wakil rakyat yang seharusnya mulia ini, mengabaikan kesehatan anak-anak, para generasi muda yang akan meneruskan Indonesia di masa depan. Dengan jargon melindungi petani tembakau, mereka mengabaikan puluhan juta anak Indonesia teracuni oleh tembakau.

Demi meloloskan RUU Pertembakauan agar segera menjadi undang-undang, para pengusul rancangan ini memilih rapat di Hotel Sultan yang berbintang lima itu dengan tarif Rp 1,2 juta per malam. Anti sumuk, anti lapar, anti capek, dan anti kesiangan sahur.

“Sebagian besar anggota Baleg kan juga bertugas di Komisi III DPR, jadi kami merasa lelah setelah seharian penuh mengikuti rangkaian uji kelayakan dan kepatutan calon tunggal kapolri,” demikian kata Taufiqulhadi, anggota Baleg asal Partai Nasdem ini. “Karena pendalaman RUU ini akan berlangsung sampai malam sekali, makanya diadakan di hotel ini, biar begitu rapat selesai, bisa langsung tidur,” katanya menambahkan.

Betul kan, masyarakat cuma bisa manggut-manggut mendengar penjelasan ini. Miris dan sedih tapi berusaha tetap tabah. Maksimal jungkir balik sambil kayang, kalau saya bisa.

Di depan mata, ada bencana mengerikan merenggut bocah-bocah. Demi melindungi industri tembakau, mereka melupakan ada generasi yang terpotong karena kebijakan tidak melindungi kesehatan mereka.

Dan kita dipaksa mafhum dan tabah, saat para wakil rakyat ini berdalih, jika menjadi Undang-Undang Pertembakauan, petani tembakau akan terlindungi. Patut diingatkan, tembakau yang digunakan untuk industri rokok kita itu, 60 persen impor. Belum lahan makin sempit. Jadi dengan cara apa akan melindungi petani. Faktanya, karena mayoritas impor, harga tembakau dari panenan petani juga dimainkan tengkulak. Bukan petani yang menentukan harga.

Oh, melindungi buruh perusahaan rokok? Barangkali kita lupa. Pada Oktober tahun lalu, Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia mengungkap puluhan ribu buruh pabrik di bidang industri rokok, tembakau, makanan, dan minuman (RTMM) di Jawa Timur di-PHK. Terbanyak ya buruh pabrik rokok. Sebagai contoh, Sampoerna saja sampai mem-PHK 12.125 pekerjanya, disusul Gudang Garam, dan pabrik-pabrik rokok lainnya. Salah satu alasannya, ya karena tenaga manusia sudah bisa digantikan oleh mesin yang lebih ekonomis, yang gak bisa teriak-teriak jika anak perlu biaya perawatan dan gak bakal minta libur kala mens datang.

Terus, siapa dong yang akan melindungi anak-anak kita? Siapa yang akan mempedulikan kesehatan generasi masa depan, yang diharapkan menoreh catatan sejarah sebagai bangsa yang besar? Tunggu dulu, ini masih 2016. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan di tahun-tahun ini. Yang penting rakyat tidak kelaparan dan industri maju. Soal kesehatan? Biarlah jadi pekerjaan rumah pemerintah selanjutnya. Alasan itu yang kayaknya ampuh meredam keresahan para masyarakat rindu pemenuhan kesehatan. Dan sialnya, alasan itu dipakai pemerintah bertahun-tahun dengan mengandalkan ketabahan luar biasa masyarakat Indonesia.

Comments

comments

You might also like

Drakula

Drakula. Bertubuh tinggi, mata menyala, kulit pucat, memakai jas hitam dengan gaya perlente. Muncul seorang diri, rambut klimis dan membenci matahari. Dialah tokoh utama novel fiksi Bram Stoker berjudul “Dracula”

Enam Puluh Menit Cuma Dapat Lima Barang

Diantara perbedaan laki2 dan perempuan yg berhubungan dengan biologi dan kebiasaan adalah cara mereka dalam mencari atau mellihat sebuah objek. Laki2 sering ketahuan sedang melirik perempuan yg lewat di sebelahnya.

Kalau Mau Anak Hebat, Orang Tua Harus Berubah

Saya sebenarnya sangat tertarik pada cerita dosen Unair yang sayang saya tak tahu namanya. Di beberapa WhatsApp saya baca rekaman momen yang dia catat saat menerima seorang siswa SLB yang

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply